Pengertian Trading Economics dan Perkembangannya di Indonesia

Sempat booming karena salah satu iklan yang beredar di Internet, kini istilah trading mulai merebak di tengah-tengah masyarakat modern. Setiap orang memiliki bayangan sendiri-sendiri mengenai apa itu trading dan trading economics? Secara terminologi, arti kata trading diambil dari bahasa Inggris yang artinya jual-beli. Kalau menurut bayangan anda sendiri, apa itu trading?

Lalu lintas keuangan atau trading economics juga sempat menjadi hot issue dikarenakan ulah sebagian oknum yang tidak bertanggung jawab mengatasnamakan trading untuk kegiatan penipuan. Mereka menjaring banyak nasabah untuk melakukan trading dengan iming-iming keuntungan yang sangat besar. Sementara itu, mereka melakukan rekayasa spekulasi untuk meraup keuntungan dari korban-korbannya.

Nah, di Indonesia sendiri, sebenarnya trading economics sudah ada, hanya saja tidak sepopuler sejak kemunculan aplikasi trading bernama ‘binomo’ dan sejenisnya. Trading yang lazim dilakukan adalah membeli mata uang yang diprediksi harganya akan naik di masa yang akan datang, sehingga pelaku trading bisa mendapatkan keuntungan besar.

Penasaran dengan perkembangan trading economics yang ada di Indonesia, simak artikel ini selengkapnya.

Perkembangan Trading Economics di Indonesia

Di Indonesia, trading pertama kali dikenal melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) tepatnya pada tahun 1999. Bursa tersebut menjadi wadah dan tempat utama dalam melakukan pengendalian jual beli mata uang asing yang ada di Indonesia. BBJ juga menjadi wadah bagi trader yang ingin melakukan kegiatan trading economics dengan Forex secara konvensional. Dengan kata lain, jika pada saat itu anda ingin melakukan trading, anda harus datang langsung ke BBJ.

Baca Juga:  Bantuan Modal Kerja Bisnis dan Usaha Kecil Menengah 2022

Pada tahun berikutnya, trading economics di Indonesia secara resmi memiliki regulasi dari pihak pemerintah. BBJ sendiri merupakan induk dari perusahaan-perusahaan yang bergabung untuk menabung di pasar modal. BBJ menaungi banyak jenis perdagangan berjangka, seperti emas, minyak mentah, kelapa sawit, dll. Kegiatan transaksi yang berjalan di dalamnya diawasi penuh oleh BAPPEBTI, yakni Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi.

Pada masa tersebut, pengaturan sistem dalam kegiatan trading economics menerapkan sistem Open Outcry dengan offer dan bid. Sistem tersebut hampir mirip dengan kegiatan lelang, saat anda ingin melakukan transaksi anda harus berteriak sambil memberi isyarat tangan. Benar, para trader berada di satu ruangan yang dipimpin oleh satu moderator yang menjembatani transaksi serta penawaran mereka. Tidak seperti saat ini, hanya dengan berbaring di kamar, anda bisa melakukan transaksi trading tersebut.

Saat ini, anda bisa bertransaksi di mana saja dan kapan saja. Anda cukup membuka rekening dan memasukkan saldo, kemudian memilih aset digital yang ingin anda beli dan lakukan untuk trading economics. Sayangnya, anda harus lebih cerdas dalam memilih aplikasi yang ingin anda gunakan untuk kegiatan tersebut. Jika salah memilih dan asal ingin cepat kaya, hati-hati rawan penipuan, ya.

Trading dalam Pandangan Syar’i

Mengutip dari laman resmi Nahdlatul Ulama Indonesia NU Online, di sana tertera bahwasannya dalam Islam sendiri peradangan atau aktivitas jual beli asalnya diperbolehkan asal tidak mengandung unsur kecurangan dan riba. Khususnya pada perdagangan mata uang atau trading economics yang bersifat elektronik, berikut adalah penjelasan pembolehan trading di dalam Islam menurut Nahdlatul Ulama.

Baca Juga:  Benarkah Trading Adalah Mesin Uang Paling Cuan

Bersifat URF, dengan artian mata uang tersebut memiliki nilai tukar atau kurs yang diperjualbelikan secara resmi. Yakni diketahui nilai atau harganya secara umum, semua orang bisa mengetahui nilai tukar mata uang tersebut, artinya tidak ada spekulasi yang tersembunyi di sana. Maka, tidak ada unsur penipuan atau gharar di dalam transaksi tersebut.

Sementara itu, landasan Nahdlatul Ulama dalam pembolehan kegiatan transaksi mata uang ini adalah dari hadist Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi, “Dagangkanlah emas dengan perak dan sebaliknya sekehendakmu.” Termaktub dalam kitab Sahih Bukhari pada bab Al-Buyu’ atau Jual Beli.

Akan tetapi ada hadist lain yang mengandung larangan transaksi yakni hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitabnya, Sahih Muslim yang berbunyi, “Rasulullah melarang jual beli kandungannya kandungan.”

Dapat diambil kesimpulan atas kasus di atas, yakni hukum trading economics ada dua, yakni Haram dan halal. Yang pertama, trading menjadi haram ketika harganya tidak sesuai seperti saat pembeli memutuskan untuk bertransaksi dengan pada saat barang diterima oleh penjualnya (pialang).

Kedua, trading economics menjadi halal apabila harga pada saat membeli sama seperti pada kala transaksi tersebut diterima oleh tangan sang penjual (pialang).

Baca Juga:  Bantuan Dana Pedagang Kecil, Rp 3,5 Juta

Nah, itu adalah ulasan sedikit tentang perkembangan trading di Indonesia dan bagaimana pandangan syariat Islam tentang trading economics ini. Kembali kepada perspektif masing-masing, apakah pelaku trading (trader) memilih cara yang sah, atau cara yang ilegal dalam bertransaksi.

Penutup

Trading economics di Indonesia ini memiliki banyak pandangan yang tentunya ada yang positif dan ada yang negatif. Bagi para pelaku trading, tentu saja kegiatan transaksi ini sangat menyenangkan, menambah wawasan dan bisa menambah pundi-pundi keuntungan dengan cepat. Akan tetapi bagaimana dengan orang awam yang tidak tahu menahu dengan trading?

Ada yang berpandangan bahwa trading itu diperbolehkan meski mereka sendiri tidak melakukan trading. Biasanya mereka memilih untuk diam karena malas terlibat. Tipe orang yang berpendapat negatif yang pertama datang dari kelompok yang ragu dan memandang trading sama seperti judi. Dan yang kedua adalah kelompok yang merasa dirugikan oleh oknum, mereka tidak menyukai trading ini.

Kembali ke perspektif masing-masing, bagaimana dengan pendapat anda?