Harga Saham Bumi Bakrie Mulai Naik, Mana yang Lebih Prospek?

Harga saham perusahaan terafiliasi Grup Bakrie seperti BUMI, ENRG, BRMS, dan juga DEWA sedang dalam tren yang naik. Harga beberapa saham tersebut mengalami kenaikan dan bahkan pernah berada di level Rp 50-an. Lalu, apakah saham bumi memiliki prospek yang bagus untuk investasi?

Tentang Saham Bumi

BRMS merupakan saham dari PT Bumi Resources Minerals Tbk. Pada Selasa 12 April 2022 harga saham BRMS ditutup di level 238, naik menjadi 10 poin atau sekitar 4,39 persen dari yang sebelumnya. Harga saham tersebut menguat sebesar 105,17 persen sejak awal tahun atau secara year to date (ytd).

BUMI merupakan saham dari PT Bumi Resources Tbk. Harga saham BUMI pada perdagangan Selasa 12 April 2022 yang lalu ditutup pada level 68, naik menjadi 2 poin atau sekitar 3,03 persen dari sehari sebelumnya. Dan sepanjang Maret 2022, harga saham BUMI berada di level 50-an.

Certified Elliott Wave Analyst Master Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus berpendapat bahwa terdapat sejumlah faktor yang mendorong kenaikan sejumlah saham Grup Bakrie. Terdapat dua faktor yang mendorong kenaikan tersebut, yaitu :

  1. Faktor yang pertama adalah kenaikan harga komoditas. Rata-rata emiten grup Bakrie merupakan saham commodities related.
  2. Faktor yang kedua adalah adanya aksi korporasi yang dilakukan oleh emiten. Seperti DEWA yang hendak akan melakukan penerbitan saham baru atau rights issue sebesar Rp 1,1 triliun. Selain itu BUMI juga restruksi utang.
Baca Juga:  Cara Gampang Daftar Investasi Bibit dan Tips Mengoptimalkan Keuntungannya

Emiten batubara telah melakukan pembayaran utang ke-17 sebesar US$ 67,8 juta. Jumlah ini mewakili pinjaman pokok yaitu sebesar US$ 63,6 juta dan juga bunga yaitu sebesar US$ 4,2 juta untuk Tranche A.

Analis Panin Sekuritas William Hartanto menilai saham Grup Bakrie telah beranjak dari zona Rp 50 yang memiliki fase uptrend. Namun, memang memiliki resiko yang lebih tinggi. Hal ini disebabkan adanya banyak investor yang ‘nyangkut’ dan juga akan berusaha keluar ketika harga saham Rp 50 menguat. Namun, menurut William menilai jika itu hanya sementara saja.

William juga mengatakan bahwa jika penguat berlanjut, mereka akan kembali membeli saham tersebut karena estimasi akan adanya perubahan tren, dan fraksi harga Rp 50 yang memberi persentase keuntungan yang lumayan besar.

Bekas dari saham gocap itu bukan berarti akan terus menerus berada di level yang sama. William juga menyebut bahwa sudah ada beberapa contoh saham yang beranjak dari zona gocap. Tidak hanya itu saja William juga mengatakan bahwa ada hal yang perlu diperhatikan yaitu besar respons pasar yang ditandai dengan besarnya volume perdagangan harian.

Baca Juga:  Cara Dapat Kuota Gratis Indosat, Telkomsel, hingga XL: Bantuan Internet Kemdikbud

Apabila tren masih naik dengan angka perdagangan harian yang cukup tinggi, maka tren tersebut masih akan terus berlanjut untuk jangka waktu yang lebih panjang. saham grup Bakrie masih layak untuk di tradingkan jangka pendek sesuai dengan kondisi secara teknikal dan juga volume perdagangan harian yang lebih tinggi, tutur William.

Selain itu Daniel juga menilai jika kinerja emiten Grup Bakrie pada tahun ini diprediksi akan membaik. Perbaikan ini seiring dengan kenaikan harga komoditas yang diakibatkan oleh krisis geopolitik di Ukraina – Rusia.

Tidak hanya itu saja perbaikan kinerja juga disokong oleh restrukturisasi utang yang dilakukan emiten. Daniel mengatakan jika kinerja grup Bakrie diperkirakan akan membaik pada tahun ini.

Daniel juga menilai saham BRMS menjadi saham Grup Bakrie yang dapat dicermati. Sehingga dia merekomendasikan saham BRMS dengan target harga sekitar Rp 250.

Kabarnya dalam sepekan ini saham BRMS mendaki sekitar 16,83 persen sedangkan saham BUMI sekitar 12,28 persen. Tampaknya naiknya harga batu bara ini mendongkrak para investor untuk beramai-ramai mengumpulkan saham tersebut.

Hal itu dikarenakan harga batu bara melesat setelah Uni Eropa mempertimbangkan sanksi baru kepada Rusia. Pada Selasa lalu (5/4) harga batu bara ditutup di US$ 280/ton dan mengalami lonjakan sekitar 8,25 persen jika dibandingkan dihari yang sebelumnya.

Baca Juga:  Definisi Investasi Saham: Manfaat, Risiko, dan Tips untuk Pemula

Level harga US$ 280/ton merupakan harga tertinggi sejak 15 Maret 2022 atau dalam 20 hari terakhir. Kenaikan harga yang tajam tersebut juga kembali mendekatkan harga batu bara ke level US$ 300/ton setelah mengalami kelemahan semenjak pertengahan Maret.

Adapun setahun belakangan harga batu bara sukse melonjak menjadi 152,23 persen. Tingginya harga batubara sejak tahun yang lalu tidak lepas dari pemulihan ekonomi dunia di tengah-tengah pandemi covid-19. Hal ini dikarenakan penyebabnya permintaan batubara yang terus meningkat.

Pada hal produksi masih berusaha untuk pulih dari pukulan sejak terjadi pandemi 2020. Ketidakseimbangan pasar batubara ini mengakibatkan harga batubara meroket sejak 2021.

Jadi, bagi Anda yang memiliki saham BUMI dan anakannya bersiap-siaplah untuk untuk mengalami harga yang kian terbang.